Surat Untuk Abah...
by Pipit Maulana on Saturday, March 26, 2011 at 1:52am
Abahku sayang...
Di sepertiga malam ini aku terjaga. Aku merasa sangat merindukanmu. Ternyata hari ini adalah dua tahun setelah kepergianmu. Sesaat pikiranku melayang kembali ke masa lalu saat kau masih ada di tengah-tengah kami.
Abahku sayang...
Andai aku bisa kembali ke masa 14 tahunku... Masa di saat aku sibuk dengan segala kegiatanku. Kau tak pernah memarahiku, malah kau selalu mendukungku. Kau tak pernah khawatir aku menjadi anak yang liar karena aku lebih banyak menghabiskan waktuku di luar sana daripada di rumah, karena kau percaya padaku sepenuhnya.
Senyum bangga tersungging di bibirmu saat kau tahu aku mendapatkan prestasi di sekolah. Itu semua karena doa dan dukunganmu, Abahku sayang...
Aku ingat, saat itu tanggal 13 April 2003. Itu hari pertama aku naik panggung bersama teman-teman bandku. Aku kira kau takkan datang karena kau sibuk dengan pekerjaanmu. Tapi ternyata kau menyempatkan diri untuk datang memberikanku semangat dan dukungan. Itu kejutan yang sangat manis untukku, Abah...sangat manis dan takkan terlupa.
Abahku sayang...
Andai aku bisa kembali ke masa 19 tahunku...
Saat itu kau mulai menderita di balik kesakitanmu. Aku akan lebih sering pulang ke rumah untuk sekedar bertemu denganmu. Untuk sekedar menatap wajahmu yang teduh itu. Untuk sekedar merawatmu. Untuk sekedar memijit kakimu yang terasa kaku karena kau hanya bisa terbaring di tempat tidurmu. Untuk sekedar menggantikan bajumu saat kau sudah mulai merasa tak nyaman. Untuk sekedar menyuapimu saat kau lapar. Untuk sekedar membuatkanmu teh manis hangat saat kau akan meminum obat. Untuk sekedar menemanimu dan mendengarkanmu melantunkan Al Qur'an saat kau merasa suntuk dan akhirnya kau terlelap di damai tidurmu. Untuk sekedar menyelimutimu saat tubuhmu menggigil kedinginan. Untuk sekedar menemanimu ke rumah sakit, karena saat itu kau harus menjalani cuci darah satu minggu sekali. Untuk sekedar menghiburmu saat mamah lebih dulu pergi sebulan sebelum kau menyusulnya.
Abahku sayang...
Maafkan anakmu ini. Karena aku belum mampu membahagiakanmu sampai akhir hayatmu. Aku janji, aku akan menjadi anak yang baik di matamu, meski kau telah kembali pada-Nya.
Abahku sayang...
Terimakasih untuk segalanya. Segala kebaikanmu, kasih sayangmu, doamu. Terimakasih karena kau telah menjadi Abahku, Abah yang terbaik...
Segala tentangmu akan selalu tersimpan di sini, di hati anak-anakmu.
Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali di tempat yang terindah di sana.
Aku sayang Abah...
Aku sayang Mamah...
Di sepertiga malam ini aku terjaga. Aku merasa sangat merindukanmu. Ternyata hari ini adalah dua tahun setelah kepergianmu. Sesaat pikiranku melayang kembali ke masa lalu saat kau masih ada di tengah-tengah kami.
Abahku sayang...
Andai aku bisa kembali ke masa 14 tahunku... Masa di saat aku sibuk dengan segala kegiatanku. Kau tak pernah memarahiku, malah kau selalu mendukungku. Kau tak pernah khawatir aku menjadi anak yang liar karena aku lebih banyak menghabiskan waktuku di luar sana daripada di rumah, karena kau percaya padaku sepenuhnya.
Senyum bangga tersungging di bibirmu saat kau tahu aku mendapatkan prestasi di sekolah. Itu semua karena doa dan dukunganmu, Abahku sayang...
Aku ingat, saat itu tanggal 13 April 2003. Itu hari pertama aku naik panggung bersama teman-teman bandku. Aku kira kau takkan datang karena kau sibuk dengan pekerjaanmu. Tapi ternyata kau menyempatkan diri untuk datang memberikanku semangat dan dukungan. Itu kejutan yang sangat manis untukku, Abah...sangat manis dan takkan terlupa.
Abahku sayang...
Andai aku bisa kembali ke masa 19 tahunku...
Saat itu kau mulai menderita di balik kesakitanmu. Aku akan lebih sering pulang ke rumah untuk sekedar bertemu denganmu. Untuk sekedar menatap wajahmu yang teduh itu. Untuk sekedar merawatmu. Untuk sekedar memijit kakimu yang terasa kaku karena kau hanya bisa terbaring di tempat tidurmu. Untuk sekedar menggantikan bajumu saat kau sudah mulai merasa tak nyaman. Untuk sekedar menyuapimu saat kau lapar. Untuk sekedar membuatkanmu teh manis hangat saat kau akan meminum obat. Untuk sekedar menemanimu dan mendengarkanmu melantunkan Al Qur'an saat kau merasa suntuk dan akhirnya kau terlelap di damai tidurmu. Untuk sekedar menyelimutimu saat tubuhmu menggigil kedinginan. Untuk sekedar menemanimu ke rumah sakit, karena saat itu kau harus menjalani cuci darah satu minggu sekali. Untuk sekedar menghiburmu saat mamah lebih dulu pergi sebulan sebelum kau menyusulnya.
Abahku sayang...
Maafkan anakmu ini. Karena aku belum mampu membahagiakanmu sampai akhir hayatmu. Aku janji, aku akan menjadi anak yang baik di matamu, meski kau telah kembali pada-Nya.
Abahku sayang...
Terimakasih untuk segalanya. Segala kebaikanmu, kasih sayangmu, doamu. Terimakasih karena kau telah menjadi Abahku, Abah yang terbaik...
Segala tentangmu akan selalu tersimpan di sini, di hati anak-anakmu.
Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali di tempat yang terindah di sana.
Aku sayang Abah...
Aku sayang Mamah...
0 komentar:
Posting Komentar